Minggu, 27 November 2016

PERJALANAN KE CAMBODIA
 Cerita ini berawal ketika saya memutuskan untuk mengikuti program exchange camp leader yang diadakan oleh organisasi saya namanya adalah GREAT (GERAKAN KERELAWANAN INTERNASIONAL). Awalnya senior saya menawarkan untuk berangkat pada tahun 2015 lalu namun karena ternyata persiapan belum matang akhirnya sampailah di bulan 24 Juli 2016 saya memutuskan untuk pergi ke Cambodia. Inilah perjalanan traveling saya dimulai. Pergi ke negara lain dengan kegiatan yang bermakna adalah keinginan yang begitu ingin saya wujudkan.
Perjalanan di Cambodia adalah perjalanan yang tak kan terlupakan selama hidup ini. Bagaimana tidak dengan penuh perjuangan dan perjalanan sendiri yang begitu melelahkan akhirnya berujung dengan pengalaman dan ilmu yang tak ternilai. Hampir 3 bulan lamanya menunggu untuk bisa mengikuti kegiatan Exchange Camp Leader ini. Traveling sekaligus melakukan pengabdian dengan membawa nama bangsa adalah perasaan bangga tersendiri. Indonesia ternyata bukanlah satu-satunya negara yang masih berkembang, penduduknya berkulit cokelat, memiliki 2 musim, dan masih kurang dalam hal pendidikan dan lainya,  inilah negara yang hampir 70% mirip dengan Indonesia adalah Cambodia. Cambodia adalah negara dengan status masih berkembang dengan kebanyakan penduduknya dihuni oleh sebagian kalangan Cina dan Mongol masih sama seperti Indonesia. Namun mayoritas penduduk negaranya adalah Budha, kita bisa menemukan banyak pagoda dimana-mana namun untuk masjid hanya di sebagaian daerah khusus muslim. Bahasa mereka adalah Bahasa Khmer yang susah dipahami oleh orang awam  seperti saya. Rumah-rumah kebanyakan di daerah pedesaanya masih menggunakan kayu dan panggung namun jangan salah rumah kayu dianggap lebih mahal dan bergengsi dibandingkan rumah dengan bangunan tembok disana. Hewan yang banyak ditemukan adalah jenis sapi putih, yang mengherankan adalah jenis sapi disana sangat kurus dan selalu dbiarkan dipinggir jalan untuk mencari makan sendiri. Orang-orang Cambodia tergolong sangat ramah dan senang membantu terutama dengan foreign atau pendatang. Terdapat cerita yang sangat mengharukan dan sangat konyol dengan penduduk Cambodia disana. Namun pada awal ini akan saya ceritakan bagaimana awal kedatangan saya menuju negara Seribu Pagoda itu.

Perjalanan saya berawal dari Jogja dengan menaiki kereta dari Stasiun Tugu menuju ke Jakarta Stasiun Gambir. Masih ada 1 jam untuk menunggu kereta, sebelah saya adalah seorang bapak separuh baya yang sangat sopan. Beliau mulai berkenalan dan menceritakan kisah hidupnya dan mulai percakpan dengan bertanya-tanya tentang asal-usul saya. Traveling memang memiliki bumbu tersendiri ketika dapat berkenalan dengan orang yang belum pernah diketahui sebelumnya. Akhirnya bapak bapak yang belum sempat saya ketahui namanya tersebut masih lama kereta nya dibandingkan saya padahal sebelumnya bapak itu mengatakan “ hayo mbak duluan siapa keretanya, nanti saya pasti duluan …” saya hanya tersenyum kecil dalam hati.  Perjalanan yang menempuh 7 jam tersebut sangat menyenangkan. Sampai di Jakarta lumayan terkejut dengan keadaan yang berbeda dari 3 tahun lalu  ketika saya ke Jakarta dulu. Lebih bersih dan lebih tertata. Namun masih sama dengan orang orang yang sangat ramai . Flight yang diharuskan transit d Kuala Lumpur adalah pengalaman pertama yang sedikit membuat saya nervous. Pasalnya bandara yang besar dan membingungkan. Namun setelah sampai disana akhirnya lega karena tidak sesulit yang dibayangkan. Manusia memang sering membayangkan dulu sebelum melakukan. Ini pelajaran pertama yang dapat diambil. Sampai di Kuala Lumpur hampir sedikit kagum karena negara ini satu tingkat lebih maju dibandingkan Indonesia. Memiliki banyak pohon kelapa sawit yang melimpah. Penghasilan rata-rata yang melebihi buruh Indonesia. Bahasa yang hampir mirip yaitu melayu namun masih tetap berbeda dengan Bahasa Tanah Air Indonesia. Awal bertemu orang Malaysia memang sangat ramah apalagi sama sama muslim, namun ketika ditanya “Awak orang mana?” ,,”Indonesia” jawabku. Mereka langsung mengerutkan muka. Entah karena sudah menjadi berita turun temurun bahwa Indonesia dan Malaysia sering terdapat perebutan daerah atau karena masalah TKI dan lainya 
Menuju Cambodia sangat menyenangkan pasalnya di pesawat bersebelahan dengan white baby dari Jepang. Lucu,,dan imut,,suka anak kecil . Mengobrol dengan ibunya yang sedikit bisa berbahasa Inggris. Namun sangat ramah kebiasaan orang Jepang. Sesampai di Cambodia perasaan haru tersendiri, tanah merah yang menjadi ciri khasnya dan bangunan yang dominan berwarna kuning memliki cita rasa tersendiri bahwa saya sudah sampai Cambodia.

Dibandara sempat bingung untuk mencapai arrival gate. Dimarahin petugas karena tidak bisa Bahasa Cambodia hh menggelikan. Akhirnya di pintu keluar dijemput oleh staff CYA (CAMBODIA YOUTH ACTION) Mr Thangdy namanya. Orang yang baik, sedikit bicara, cool, pelindung, dan gentelmant. Naik tuk-tuk pertama kali untuk sampai di office CYA. Perasaan yang sangat menyenangkan akhirnya naik tuk tuk juga,, inikah yang namanya tuk-tuk.. aku terkagum yaitu kendaraan roda 3 yang hampir sama dengan becak motor :). Hal yang paling mengherankan adalah, Cambodia bukan Eropa, namun mata uangnya adalah dolar dan Riel. Satu lagi, naik tuk tuk 5 menit bayarnnya serupa dengan perjalanan jogja semarang dengan bis patas . Transportasi Cambodia memang paling mahal, mungkin perlu untuk membawa motor sendiri untuk traveling disini hhh. Di jalanan Phnom Phen yang merupakan ibu kota Cambodia masih terlihat seperti Jakarta tahun 70 han. Bukan apa apa memang kenyataanya seperti itu, mungkin dikarenakan adanya insiden pembantaian orang orang cendekia sekitar 10  tahun yang lalu. Namun jangan heran mobi mobil mewah sangat banyak ditemukan disana. Sampai di office istrahat. Malam diajak berkeliling Phnom Phen dengan motor matic Cambodia dan dinner dengan makanan China. Terong bakar dengan bumbu kacang memiliki selera yang sangat mantab untuk malam itu. bertemu dengan partner nge camp bareng Banha namnaya (Cakep, pintar, namun sedikit,,,haha/0). Mengobrol bersama sama.
Satu hari di Cambodia sangat bersemangat, melanjutkan perjalanan menuju ke CYA learning Center yaitu salah satu project CYA tentang education. Sarapan pagi adalah KFC , karena susah menemukan makanan halal disana. Perjalanan di Kampot Province sekitar 4 jam menggunakan mobil van. Perjalanan dimulai. Berhentilah di sebuah toko roti di perbatasan Phnom Phen. Roti yang masih membuat kangen adalah roti bantal Cambodia hh.
Sampai di sana akhirnya bertemu dengan teman dari Indonesia yang juga menjadi relawan disana kak Lutfi, saling curhat dan sangat kangen Indonesia …. 2 Hari disana saya diajak untuk langsung mengajar anak anak. Sangat mengagumkan anak anak disana benar benar. Satu jam sebelum kelas dimulai sudah berangkat, kalua anak anak Indonesia mungkin satu jam sesudah baru berangkat . Selalu bersemangat mengikuti kegiatan pembelajaran. Pintr pintar. Dari anak anak TK, SD, SMP. Tempat ini memang sengaja dibangun sebagai pusat belajar Bahasa Inggris untuk anak anak di sekitar pasalnya tempat ini adalah tempat kelahiran presiden CYA yang memiliki inisiatif untuk mencerdaskan anak-anak di daerahnya. Pengajarnya adalah semua relawan dari berbagai negara. Termasuk saya yang sedang ada disana.. Kangen mereka . Pelajaran yang diberikan adalah pelajaran tingkat umum yang lumayan untuk dipelajari anak anak seumuran mereka. Kagum sekali andaikan Indonesia memiliki anak anak yang secerdik mereka,, semoga bisa terlaksana . Satu jam telah selesai untuk mengajar mereka. “Thank you Teacher” kata mereka si imut kecil kecil menggemaskan,, ngangenin …sayang mereka . Hampir satu minggu disana untuk mengajar Bahasa Inggris.
 
(mengajar di kelas)
















Sampailah pada project yang memang tujuan utama saya diajukan sebagai Camp Leader, yaitu di daerah kampong pinggiran yang berbatasan dengan Laut Vietnam. Kampoot Province Trapaeng Shangke Community namanya. Penduduknya sebagian besar adalh muslim. Muka dan cara melakukan sosialisasi dengan orang lain lebh mirip dengan orang Malaysia, entah karena mungkin masih terpengaruh oleh kebudayaan Malaysia atau karena memang kultur yang seperti itu. Namun jika ditilik lebih jauh lagi sejarah datangnya agama Islam ke Cambodia berasal dari para pedagang yang sebagian besar berasal dari Malaysia, bahkan banyak juga orag-orang Cambodia yang belajar agama gratis di Malaysia. Nah mengenai project saya adalah mengetuai sebuah camp yang meiliki partisipan sejumlah 16 orang dari 9 negara berbeda. Diantaranya yaitu Choi, Mun, Jinny adalah relawan Korea. Yayoi, Kaoiki, Monica adaah orang Jepang. Irene Andrea, Alberto berasal dari Spanyol, Marina dari Prancis, Guilia dari Belgia, Chu Yi dari Taiwan dan Federico juga Anna dari Italy. Camp leadernya adalah saya sendiri Absari dari Indonesia bersama partner dari Cambodia yaitu Banha.




Inilah mereka orang-orang luar biasa dengan segala keunikanya :D
Project yang dilakukan hampir 15 hari ini diisi dengan berbagai kegiatan yang sangat menyenangkan. Yaitu kegiatan membangun jembatan kayu yang tujuanya adalah untuk membantu komunitas Trapaeng Shangke dalam hal transportasi dan sarana untuk menghubungkan antara satu ruang dengan ruang yang lain pada bungalow di sana. Selanjutnya adalah kegiatan picking seed atau mengumpulkan biji mangrove di hutan Mangrove untuk menuju kesana dibutuhkan waktu selama 1 setengah jam naik kapal mesin. Tujuanya adalah untuk mencari biji yang diteruskan dengan menanam benih mangrove yang dapat dibudidayakan untuk di tanam di pesisir. . To be continued untuk membaca lebih lanjut bagaimana cerita di hutan mangrove dan cerita membangun jembatan kayu juga traveling di Cambodia beserta keunikannya 



kita dalam perjalanan

Inilah kami dengan perbedaan yang saling meyatukan kekuatan untuk bekerja bersama  berjuang bersama ¬¬¬



Tidak ada komentar:

Posting Komentar